PENTINGNYA PEKERJA SOSIAL DALAM MEMAHAMI MULTIKULTUR DALAM MASYARAKAT MAJEMUK

PEKERJA SOSIAL DALAM MASYARAKAT MULTIKULTUR

Oleh : Nella Kurnia Anggrahini

Gambar

Masyarakat majemuk merupakan suatu masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpa ada pembauran satu sama lainnya di dalam suatu kesatuan politik. Dalam struktur masyarakat majemuk terdapat perbedaan antara setiap elemen baik secara vertical maupun secara horizontral. Perbedaan secara vertical yaitu misalnya adanya perbedaan lapisan golongan seperti perbedaan golongan bangsa barat, bangsa timur tengah, dan masyarakat pribumi. sedangkan perbedaan secara horizontal yaitu adanya perbedaan suku bangsa, adat, agama, dan kedaerahan. Perbedaan-perbedaan tersebut  Terjadi  sebagai akibat dari  adanya segmentasi ke dalam bentuk-bentuk kelompok yang memiliki sub kebudayaan yang berbeda antara satu dengan yang lain dan perbedaan inilah yang dinamakan multikultur dalam masyarakat majemuk. Tak jarang, karena adanya perbedaan-perbedaan tersebut menyebabkan terjadinya konflik antar budaya, diskriminasi suatu kelompok terhadap kelompok lainnya, dan lain sebagainya. 

Perbedaan sub-sub dari setiap kelompok kebudayaan tersebut dapat tercermin dalam perbedaan sikap serta cara dalam bertindak dan bertingkah laku, perbadaan dalam hal penghargaan dan ukuran  tingkat kesopanan. Sebagai contoh dalam hal cara makan, cara menghormati orang yang lebih tua, cara berbicara, cara berpakaian, dan lain sebagainya. Masing-masing sub kelompok kebudayaan memiliki cara yang berbeda-beda dan belum tentu sama. Bisa jadi suatu kebudayaan yang dianut suatu masyarakat sudah cukup baik menurut masyarakat yang menganutnya, namun belum tentu baik menurut suatu kelompok masyarakat yang lainnya. Misalnya masyarakat jawa pada umumnya lebih terkesan halus dalam nada berbicara dan bertutur kata, sedangkan masyarakat diluar jawa pada umumnya lebih keras dalam hal nada berbicara, dan bertutur kata. Dan hal ini tidak semata-mata menjadi tolak ukur bahwa kebudayaan jawa lebih baik dan bagus daripada kebudayaan diluar jawa. Tetapi harus disesuaikan dengan ukuran yang digunakan oleh masyarakat yang bersangkutan, kita tidak boleh menilai kebudayaan orang lain dengan ukuran-ukuran dari kebudayaan sendiri. Yang harus diingat terdapat berbagai ukuran tentang kebenaran, keindahan, dan tentang yang baik dan yang buruk.

Untuk menyikapi adanya perbedaan-perbedaan tersebut maka sudah menjadi kewajiban bagi seorang pekerja sosial harus memahami mengenai multikultur dalam masyarakat majemuk. Hal ini erat kaitannya dengan adanya relativisme kebudayaan yang akan timbul dan dimiliki serta terbentuk didalam diri seorang pekerja sosial setelah mempelajari dan memahami tentang adanya mulktikulturalisme. Yang mana relativisme kebudayaan merupakan sikap antropologis bahwa kebiasaan atau pemikiran kebudayaan suatu masyarakat harus dipandang sehubungan dengan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan. Dan tidak menilai sikap dan perilaku orang lain menurut sudut pandang kebudayaan sendiri. sehingga pekerja sosial dapat bersikap dan menilai secara arif setiap kebudayaan dan tingkah laku masyarakat karena perbedaan latar belakang kebudayaannya.  Pekerja sosial sebagai seorang yang akan bekerja untuk membantu masyarakat, harus memiliki pengetahuan dan pemahaman multikultur secara mendalam. Hal ini untuk memudahkan dalam diri seorang pekerja sosial dalam menyikapi setiap perbedaan antara kelompok masyarakat yang satu dengan kelompok masyarakat yang lainnya yang sudah pasti akan dihadapinya setelah terjun di masyarakat. Dan diharapkan dengan mempelajari dan memahami multicultural yang ada di masyarakat, seorang pekerja sosial akan lebih mudah dalam beradaptasi dan menyesuaikan diri ketika memasuki setiap lingkungan yang berbeda. Hal ini akan memudahkan pekerja sosial untuk diterima oleh masyarakat maupun seorang klien yang akan dibantunya. Selain itu dengan memahami multikulturalisme seorang pekerja sosial diharapkan dapat lebih mampu dan mudah dalam menentukan cara yang tepat dalam membantu pemecahan masalah klien maupun masyarakat yang dasar-dasar pemecahan masalahnya disesuaikan dengan sub sistem kebudayaan yang dianut oleh klien atau masyarakat.  

Dengan memahami multikultur dalam masyarakat majemuk, pekerja sosial akan lebih arif dalam bersikap dan bertingkah laku, serta memahami perilaku klien berdasarkan latar belakang budayanya sehingga lebih memahami konsep bahwa setiap manusia itu memiliki keunikan masing-masing dan setiap masyarakat memiliki perbedaan disetiap sub sistem kebudayaannya.

5 pemikiran pada “PENTINGNYA PEKERJA SOSIAL DALAM MEMAHAMI MULTIKULTUR DALAM MASYARAKAT MAJEMUK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s