ALUN-ALUN KOTA BANDUNG

ALUN-ALUN KOTA BANDUNG
MINIATUR INDONESIA
Oleh : Nella Kurnia Anggrahini

Kota Bandung merupakan ibu kota Provinsi Jawa Barat, dan merupakan salah satu kota besar yang ada di Indonesia. Kota Bandung memiliki latar belakang budaya yang cukup kental dengan budaya sunda, namun karena status peradabannya adalah kota besar, dan merupakan salah satu dari sekian banyak kota yang sudah cukup maju dibanding kota-kota lainnya di Indonesia, maka tak heran jika banyak sekali para pendatang yang datang dari luar kota bandung untuk mengadu nasib maupun menuntut ilmu di kota ini. Umumnya mereka datang dari berbagai penjuru Indonesia baik dari pulau jawa maupun dari luar pulau jawa. Mengingat Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman budaya, maka mereka yang datang ke kota bandung pastinya memiliki latar belakang budaya yang berbeda-beda sesuai dengan kebudayaan yang telah mereka miliki dari daerah asalnya, maka tidak ada salahnya bahwa bandung pantas untuk disebut sebagai kota miniaturnya Indonesia.
Siapa yang tak kenal dengan kata alun-alun? Tentunya semua orang pastilah tahu dengan istilah kata tersebut. Alun-alun merupakan tempat yang menjadi titik pusat dari sebuah kota. Umumnya alun-alun terdiri dari sebuah lapangan yang cukup luas dan terdapat sebuah masjid di sekitarnya. Alun-alun menjadi tempat untuk berkumpulnya masyarakat baik untuk bersantai, berolahraga, maupun untuk melakukan sebuah kegiatan di dalamnya. Di alun-alunpun juga banyak sekali kita jumpai para penjual yang menjual beranekaragam jenis barang mulai dari pakaian, aksesoris, makanan, minuman dan sebagainya. Demikian pula dengan alun-alun kota bandung yang terletak di dekat jalan asia- Afrika. Berkaitan dengan penjelasan di atas bahwasanya kota bandung merupakan kota yang pantas disebut miniaturnya Indonesia, maka alun-alun kota bandung adalah tempat yang paling strategis untuk melihat, dan menilai berbagai keanekaragaman budaya tersebut. hal ini dikarenakan alun-alun kota bandung menjadi tempat berkumpulnya para pedagang dan masyarakat yang tidak hanya berasal dari bandung ataupun jawa barat saja melainkan ada yang dari jawa tengah, jawa timur, padang, batak, dan lain sebagainya.
Pada hari Jum’at 13 November 2013 lalu, saya melakukan pengamatan terhadap interaksi antar pedagang, dan pengunjung yang ada di alun-alun kota Bandung. berdasarkan apa yang saya lihat dan saya amati, saya menilai bahwasanya interaksi yang terjalin disana sangatlah baik, terutama interaksi antar para pedagang yang memiliki perbedaan latar belakang budaya, suku, dan sebagainya. Saya menilai bahwasanya pluralisme disana benar-benar tercipta dengan sangat baik. yang mana kita tahu pluralism merujuk pada saling penghormatan antara berbagai kelompok dalam masyarakat yang memungkinkan mereka mengekspresikan kebudayaan mereka tanpa prasangka dan permusuhan.
Teringat ketika saya tengah duduk sambil menunggu makanan yang saya pesan, saya memperhatikan orang-orang disekitar saya. Disana saya melihat tiga orang pedagang yaitu pedagang minuman, pedang mie rebus, dan seorang penjual buku, yang kebetulan dagangannya saling berdekatan, tengah melakukan percakapan dengan menggunakan bahasa Indonesia. Jika saya menilai terlihat dari aksen bahasa yang digunakan, maka dapat saya simpulkan bahwa dari ketiga orang tersebut saling berbeda suku budayanya yaitu jawa, sunda, dan batak. Para pedagang saling tolong menolong satu dengan yang lainnya. Dapat dilihat pada saat salah seorang pedagang yang memiliki sebuah keperluan entah itu sholat ataupun ke toilet yang kemudian menitipkan dagangannya kepada temannya sesama pedagang, merupakan salah satu contoh adanya rasa gotong royong yang mereka miliki.
Namun kondisi alun-alun pada saat itu sudahlah berbeda dengan kondisi alun-alun beberapa bulan yang lalu. Saat ini alun-alun kota bandung kondisinya sudah sepi, Hanya ada segelintir pedagang yang masih berjualan disana dan itupun hanyalah pedagang makanan dan minuman ataupun pedagang buku. Sementara untuk para pedagang seperti pedagang pakaian, aksesoris dan sebagainya semuanya sudah tidak ada. Mereka semua sudah di relokasi ke tempat yang baru yang disediakan oleh pemerintah yaitu di gedebage. Adanya relokasi tersebut berkaitan dengan program terbaru pemerintah kota yaitu terkait pembersihan kota bandung.
Pada saat itu saya mencoba mengobrol dan bertanya-tanya sedikit dengan salah seorang pedagang makanan di alun-alun bandung terkait dengan program pembersihan oleh pemerintah kota. Umumnya para pedagang merasa keberatan dengan tindakan pemerintah yang memindahkan para pedagang ke Gedebage yang justru merupakan tempat yang tidak terlalu ramai dan jauh dari pusat kota. Bahkan pedagang umumnya kecewa dengan pemerintah karena pemindahan dilakukan sementara tempat belum selesai direnovasi.
Para pedagang yang saat ini masih memiliki izin berjualan di alun-alun adalah para pedagang kuliner dan mereka yang memiliki KTP yang berdomisili di Bandung maupun di Jawa Barat. Sementara mereka yang tidak memiliki KTP berdomisili di wilayah tersebut terpaksa harus di relokasi ke wilayah Gedebage. Berdasarkan pendapat seorang pedagang yang saya wawancarai, ia menyayangkan karena teman-temannya yang bukan merupakan warga Jawa Barat harus pindah dari alun-alun kota Bandung ke wilayah Gedebage yang cukup jauh. Hal ini dikarenakan hubungan yang mereka jalin sudahlah sangat akrab. Keakraban tersebut tercipta karena adanya beberapa persamaan yakni persamaan profesi sebagai penjual, persamaan dalam hal keyakinan, persamaan asal daerah bagi yang berasal dari daerah yang sama, dan pula tercipta karena lamanya interaksi yang terjalin diantara mereka hal ini dikarenakan rata-rata para pedagang sudah berjualan sekitar lima tahunan bahkan ada yang lebih, dan ada pula yang belum mencapai angka tersebut.
Mungkin kedepannya kita tidak akan lagi dapat menemukan miniature Indonesia yang sudah sekian lama terbentuk di Alun-alun kota Bandung. Namun kita tetap akan bisa menemukannya di tempat lain seperti di kampus-kampus perguruan tinggi termasuk di STKS Bandung. Mungkin cukup sekian sepenggal cerita tentang alun-alun Bandung, semoga dapat memberikan informasi yang cukup dan bermanfaat bagi kita semua, terimakasih.
Bandung, 16 Desember 2013
Keep smile, keep spirit ^_^
from Allen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s