Leader Sejati

LEADER SEJATI

  Oleh : Nella Kurnia Anggrahini

 Baru kali ini aku tahu bahwasanya ada juga hari ayah. Dari dulu yang aku tahu adalah hari ibu, tapi syukurlah bahwa sekarang hari ayah juga telah ada.  Dihari ini yaitu hari ayah, aku ingin mengungkapkan sedikit cerita tentang ayahku.

Ayahku adalah sosok ayah yang sangat baik. Beliau seorang yang penyabar, bijaksana, tidak suka marah, dan sangat bertanggung jawab. Ayah bisa melakukan banyak hal tentang tugas-tugas rumah tangga  seperti memasak, menyapu, mencuci piring, mencuci baju, menanam sayur mayur, dan sebagainya meskipun biasanya itu adalah tugas-tugas seorang ibu, tapi ayah senang melakukannya. Ayahlah yang mengajari kami tentang bagaimana mencuci piring dengan baik, mencuci baju, menyapu, mengepel lantai dan sebagainya ketika masih kecil. Hingga detik ini ketika semua anak-anaknya telah beranjak dewasa,Beliau masih senantiasa mengajari kami tentang berbagai nilai-nilai kehidupan yang dipetiknya dari pengalaman-pengalamannya dimasa lalu.

Teringat tentang cerita ayahku ketika pertama kali menginjakkan kaki di tanah rantau. Bagaimana beliau harus melalui hari-hari yang serba sulit yang membutuhkan perjuangan yang amat keras serta kesabaran demi memperjuangkan hidup. Mulai dari menjadi pedagang kaki lima dipinggiran rel kereta api, guru honorer hingga kernet metromini semuanya ia lakoni secara bergantian setiap harinya. Usai sholat subuh beliau berangkat untuk membuka dagangannya dalam sebuah gerobak kecil, hingga ibu datang menggantikannya, ayah mulai berganti peran sebagai kernet bus kota. Sesekali waktu beliau mengajar sebagai guru honorer. Sebagai orang yang bekerja dijalanan seperti itu, menjadikannya akrab dengan kehidupan yang serba keras dan sulit serta berteman dengan berbagai karakter orang seperti preman dan sebagainya. bagi ayah tak masalah berteman bagi siapapun yang terpenting adalah prinsip untuk tidak pernah meninggalkan sholat 5 waktu.

Ayah dan ibu tinggal disebuah kontrakan kecil di kota tanjung karang. Mungkin sebenarnya tidak layak disebut sebagai kontrakan karena hanya terdiri dari sepetak ruangan, berdindingkan papan dan berlantaikan tanah. Harganya cukup murah, tapi dengan kondisi perekonomian ayah pada saat itu menjadikannya terkesan mahal.

Kehidupan tak pernah terlepas dari yang namanya ujian, ditengah-tengah kesulitan dalam menyambung hidup, orang tuaku harus angkat kaki dari kontrakannya dimalam hari secara tiba-tiba karena terlambat membayar uang kontrakan. Padahal ayahku telah berencana membayarnya keesokan hari. Dengan hati yang diliputi sedih, rasa sakit hati, dan kebingungan mencari tempat tinggal baru.  Dengan menggunakan sebuah gerobak ayah dan ibuku mengemasi semua barang-barangnya dan membawanya pergi dari tempat itu. ayahku bersyukur karena seorang temanya sesama perantau dan dari desa yang sama dengan ikhlas membantu membawa barang-barang tersebut dan mencarikan tempat tinggal yang baru. Seperti adegan disebuah film-film, tapi ini adalah sebuah kenyataan.

Kesulitan hidup yang lain juga pernah ayah rasakan ketika beras habis, dan kebutuhan-kebutuhan lain juga harus dipenuhi sementara tak ada uang untuk memenuhi itu semua. Disaat itu ayah merasa hampir putusasa hidup di tanah rantau. Bahkan ayah sempat berpikiran untuk mengirimkan surat kepada orang tuanya, mengadukan segala keluh kesah, dan meminta untuk dikirimi beras tapi ayah  mengurungkannya. Hal ini karena tekat ayah sudah bulat, prinsip hidupnyalah yang membuatnya terus bertahan bahwasanya Sekali keluar dari rumah, maka sebisa mungkin harus mampu menghadapi hari-hari dengan tanggungjawab, sesulit apapun itu baginya pantang untuk merengek, dan meminta bantuan kepada orang tuanya. Karena mengadukan kesulitannya berarti akan membuat orang tuanya merasa sedih dan khawatir. Apalagi nenek,  pasti akan menyuruh ayah segera pulang dan menyerah. Itulah ayahku, sangat kuat dalam memegang prinsip, serta pantang menyerah.

Hingga ayah berhasil mentamatkan kuliahnya dan diterima sebagai PNS, akhirnya kerasnya kehidupan kota yang dilakoninyapun berakhir. Karena ayah ditempatkan disebuah daerah yang sangat pelosok, yang bahkan pada waktu itu masih seperti hutan jalanannya sepi, belum ada listrik. Ayah berprofesi sebagai seorang guru, dan difasilitasi sebuah perumahan sekolah untuk tempat tinggal. Sampai ketika aku berada dibangku kelas 1 sekolah dasar kami pindah kerumah yang telah ayah bangun dengan hasil keringatnya.

Di tanah inilah kami semua anak-anak ayah dan ibu dilahirkan, dididik dan dibesarkan dengan kesederhanaan. Ayah, terimakasih atas segala yang engkau berikan. Atas jerih payah yang kau lakukan untuk kami semua. dari engkau ayah, aku belajar banyak hal tentang kehidupan. Tentang menghargai segala sesuatu, tentang pantang menyerah, rasa syukur, kemandirian, dan tanggung jawab. Terimakasih ayah bagiku engkau adalah leader sejati.

Selamat Hari Ayah ^_^

Bandung, 12 November 2014

Nella Kurnia Anggrahini

Keep smile, keep spirit ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s