Nilai, Etika, Dan HAM

NILAI, ETIKA dan HAM DALAM PEKERJAAN SOSIAL

Oleh : Nella Kurnia Anggrahini

Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS) Bandung

1. PENGERTIAN NILAI
Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna
bagi manusia. Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna
bagi kehidupan manusia.Nilai sosial adalah segala sesuatu yang dianggap baik dan benar, yang diidam-idamkan masyarakat. Agar nilai-nilai sosial itu dapat tercipta dalam masyarakat, maka perlu diciptakan norma sosial dengan sanksi-sanksi sosial. Nilai sosial merupakan penghargaan yang diberikan masyarakat kepada segala sesuatu yang baik, penting, luhur, pantas, dan mempunyai daya guna fungsional bagi perkembangan dan kebaikan hidup bersama.
 Peran nilai sosial

1. Alat untuk menentukan harga sosial, kelas sosial seseorang.
2. Mengarahkan masyarakat untuk berfikir dan bertingkah laku sesuai dengan nilai yang
ada
3. Memotivasi manusia untuk berperilaku sesuai dengan yang diharapkan.
4. Alat solidaritas atau mendorong masyarakat untuk bekerjasama.
5. Pengawas, pembatas, pendorong dan penekan individu untuk selalu berbuat baik.
 Klasifikasi nilai sosial
Menurut Notonegoro nilai sosial diklasifikasikan menjadi:
1. Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia atau benda-benda nyata yang dapat dimanfatkan sebagai kebutuhan fisik manusia. Contoh makanan, minuman dan pakaian
2. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia agar dapat melakukan aktivitas atau kegiatan hidupnya. Contoh kendaraan, komputer, dan alat-alat lain yang membantu aktivitas manusia
3. Nilai rohani, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi kebutuhan rohani (spiritual). Nilai rohanil dibedakan menjadi:
a. nilai kebenaran dan nilai empiris bersumber dari proses berfikir
b. nilai keindahan bersumber dari unsur rasa (perasaan dan estetika)
c. nilai moral nilai yang berkenaan dengan kebaikan dan keburukan, bersumber dari kehendak atau kemauan (karsa dan etika)
d. nilai religius berisi keyakinan/kepercayaan manusia terhadap Tuhan.
2. PENGERTIAN ETIKA
Etika berasal dari bahasa yunani yaitu ethos yang berarti karakter, watak kesusilaan atau adat kebiasaan di mana etika berhubungan erat dengan konsep individu atau kelompok sebagai alat penilai kebenaran atau evaluasi terhadap sesuatu yang telah dilakukan.
Etiket adalah suatu sikap seperti sopan santun atau aturan lainnya yang mengatur hubungan antara kelompok manusia yang beradab dalam pergaulan. Teori-teori Etika yang akan dibahas dapat menentukan sikap setiap pelaku komunikasi dalam mengambil tindakannya. Diharapkan dengan memahami beberapa teori etika ini setiap pelaku komunikasi bisa mengambil sikapnya sendiri berdasarkan teori-teori etika, dan sebaliknya kita pun bisa memahami mengapa seseorang bertindak.
• ETIKA UMUM, berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia bertindak secara etis, bagaimana manusia mengambil keputusan etis, teori-teori etika danprinsip-prinsip moral dasar yang menjadi pegangan bagi manusia dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan. Etika umum dapat dianalogikan dengan ilmu pengetahuan, yang membahas mengenai pengertian umum dan teori-teori.
• ETIKA KHUSUS, merupakan penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. Penerapan ini bisa berwujud : Bagaimana saya mengambil keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang saya lakukan, yang didasari oleh cara, teori dan prinsip-prinsip moral dasar. Namun, penerapan itu dapat juga berwujud : Bagaimana saya menilai perilaku saya dan orang lain dalam bidang kegiatan dan kehidupan khusus yang dilatarbelakangi oleh kondisi yang memungkinkan manusia bertindak etis : cara bagaimana manusia mengambil suatu keputusan atau tidanakn, dan teori serta prinsip moral dasar yang ada dibaliknya.

3. NILAI UNIVERSAL PEKERJAAN SOSIAL
Pekerjaan sosial tumbuh dari cita-cita kemanusiaan dan demokratis, dan nilai-nilainya didasarkan pada penghormatan terhadap kesetaraan, senilai, dan martabat semua orang. Sejak awal lebih dari satu abad yang lalu, praktik pekerjaan sosial telah difokuskan pada pemenuhan kebutuhan manusia dan mengembangkan potensi manusia. Hak Asasi Manusia dan keadilan sosial berfungsi sebagai motivasi dan justifikasi untuk tindakan kerja sosial. Dalam solidaritas dengan mereka yang dis-diuntungkan, profesi berusaha untuk mengentaskan kemiskinan dan untuk membebaskan orang-orang yang rentan dan tertindas dalam rangka untuk mempromosikan inklusi sosial. Nilai kerja sosial diwujudkan dalam kode profesi nasional dan internasional etika.

Pekerja sosial banyak meluangkan waktu untuk menyebarkan pengetahuan dan menciptakan suatu hubungan dimana agar program yang menjadi tanggung jawab dapat dijangkau dan dimanfaatkan oleh setiap warga masyarakat yang menjadi sasaran program pekerja sosial tersebut. Melalui kegiatan tersebut maka perorangan, keluarga dan masyarakat dapat memanfaatkan sumber yang terdapat di masyarakat untuk memenuhi kebutuhan mereka. Pengertian pekerja sosial itu sendiri adalah suatu bidang keahlian yang mempunyai tanggung jawab untuk memperbaiki dan atau mengembangkan interaksi diantara orang dengan lingkungan sosial, sehingga orang yang bersangkutan memiliki kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas keidupannya, mengatasi kesulitan-kesulitan, serta mewujudkan aspirasi-aspirasi dan nilai-nilai mereka. Sebagai suatu profesi tentunya pekerja sosial harus memenuhi syarat-syarat atau kriteria atau memiliki ciri seperti kode etik profesi yang berfungsi untuk mengatur atau menjadi pedoman dalam melakukan praktek pekerjaan sosial. Kode etik ini dirumuskan oleh para profesi pekerjaan sosial untuk membuat sebuah aturan bagi para pekerja sosial. Profesi ini makin dikenal karena adanya partisipasi masyarakat yang juga bisa memberikan penilaian yang baik berupa penghargaan maupun hukuman. Setiap pekerja sosial profesional harus mengetahui tentang praktek pekerjaan sosial secara umum, walaupun pada kenyataan sehari-hari bentuk operasionalnya yang konkrit berbeda dan bersifat spesifik karena disesuaikan dengan jenis masalah, keadaan kelayan, situasi yang berbeda dengan tingkatan-tingkatan sistem target-target yang telah ditentukan.

 Kode Etik Pekerja Sosial
Kode Etik Pekerja Sosial adalah suatu pedoman perilaku bagi anggota Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI). Kode Etik Pekerja Sosial merupakan landasan untuk memutuskan persoalan-persoalan etika ketika perilaku pekerja sosial dalam menyelenggarakan hubungan profesional dengan klien, rekan sejawat, lembaga tempat ia dipekerjakan, dan dengan masyarakat dinilai menyimpang dari standar perilaku etik. Sebagai suatu profesi tentunya pekerja sosial harus memenuhi syarat-syarat atau kriteria atau memiliki ciri seperti kode etik profesi yang berfungsi untuk mengatur atau menjadi pedoman dalam melakukan praktek pekerjaa sosial. Kode etik ini dirumuskan oleh para profesi pekerjaan sosial untuk membuat sebuah aturan bagi para pekerja sosial. Profesi ini makin dikenal karena adanya partisipasi masyarakat yang juga bisa memberikan penilaian yang baik berupa penghargaan maupun hukuman. Kode Etik ini pada akhirnya akan membatasi segala perilaku pekerja sosial dalam prakteknya di kehidupan sehari-hari. Apabila seorang pekerja sosial tidak mematuhi kode etiknya maka akan ada sangsi yang akan ia terima sesuai dengan yang telah disepakati. Kode etik ini tidak hanya menguntungkan pekerja sosial saja akan tetapi dalam kode etik ini menjaga agar hubungan antara pekerja sosial dan kelayan mampu terjalin dengan baik dan tujuan dari kode etik tersebut juga agar privasi antara pekerja sosial dan kelayan terjamin dengan baik. Sehingga sikap profesional mampu terjalin didalamnya.

4. HUBUNGAN NILAI, ETIKA, DAN HAM
Perhatian dan tidak dapat dipisahkan dari memuliakan dan menghargai semu orang dan sesuai dengan HAM, meliputi perhatian pada determinasi diri, memelihara partisipasi, melayani dan mengidentifikasi orang, dan mengembangkan kekuatan. Hubungan nilai etika dengan HAM yaitu bahwa nilai merupakan suatu penghargaan terhadap sesuatu yang dianggap baik, sementara etika merupakan sebuah aturan yang dijalankan melalui kode etik untuk menentukan nilai yang baik. Dan hubungnnya dengan HAM bahwa ketika etika dan nilai sudah berlangsung secara baik, maka akan dapat mewujudkan sebuah perlakuan terhadap HAM dengan baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s