PORNOGRAFI

PORNOGRAFI

Oleh : Nella Kurnia Anggrahini

Era sekarang telah membawa generasi muda, terutama remaja pria, ke dalam era kekerasan seksual yang tidak mustahil akan menuju ke pelecehan seksual dan perkosaan. Bisa dimaklumi jika perkosaan meningkat akhir-akhir ini, berbanding lurus dengan semakin mudahnya akses kepada pornografi.

Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.

Pornografi secara perlahan telah mempengaruhi pandangan seksualitas, perilaku dan sikap masyarakat terhadap kaum perempuan. Pornografi diyakini memberikan dampak negatif bukan hanya kepada penikmatnya, namun juga kepada populasi terdampak, misalnya kaum perempuan. Pertama, seksualitas dalam pornografi adalah memandang kaum perempuan sebagai obyek pemuas pria. Kedua, kekerasan virtual yang hanya ada di dalam industri pornografi telah memicu terjadi kekerasan seksual dalam kehidupan nyata. Ketiga, pornografi berdampak cukup besar terhadap cara pandang perempuan terhadap tubuh mereka, Pornografi sedikit banyak telah memaksa para gadis-gadis belia untuk merubah norma, misalnya norma terhadap fashion dan kecantikan.

Dipandang dari sudut etika, pornografi akan merusak tatanan norma-norma dalam masyarakat, merusak keserasian hidup dan keluarga dan masyarakat pada umumnya dan merusak nilai-nilai luhur dalam kehidupan manusia seperti nilai kasih, kesetiaan, cinta, keadilan, dan kejujuran. Nilai-nilai tersebut sangat dibutuhkan masyarakat sehingga tercipta dan terjamin hubungan yang sehat dalam masyarakat. Masyarakat yang sakit dalam nilai-nilai dan norma-norma, akan mengalami kemerosotan kultural dan akhirnya akan runtuh.

Jika dipandang dari sudut budaya bangsa Indonesia, Pornografi memang merupakan wacana klasik yang sudah ada seumur dengan usia peradaban manusia. Pro-kontra tentang pornografi tidak kunjung usai, bahkan dapat dikatakan akan terus berlangsung. Tarik-menarik antara argumen agama-moralitas vis a vis kebebasan berekspresi- berkesenian terus berlangsung. Hal ini dikarena Indonesia adalah bangsa yang majemuk dengan multikultur, sehingga standar penilaian terhadap pornografi bisa bermacam-macam dan tidak terselesaikan karena banyaknya perbedaan dan kepentingan.

Berkaitan dengan perbedaan pandangan masyarakat terhadap pornografi tersebut, dapat dilihat pada saat akan disahkannya RUU tentang pornografi dan pornoaksi, ketika itu terjadi banyak kontroversi di kalangan masyarakat yang berbeda pendapat antara yang pro dengan yang kontra. Kelompok yang mendukung diantaranya MUI, ICMI, FPI, MMI, Hizbut Tahrir, dan PKS. Sedangkan kelompok yang menentang berasal dari aktivis perempuan (feminisme), seniman, artis, budayawan, dan akademisi.

MUI mengatakan bahwa pakaian adat yang mempertontonkan aurat sebaiknya disimpan di museum. Bagi kalangan yang menolak, RUU ini dianggap tidak mengakui kebhinnekaan masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, etnis dan agama karena mendiskriminasikan pertunjukan dan seni budaya tertentu dalam kategori seksualitas dan pornografi.. selain itu, RUU ini bagi mereka dianggap menyudutkan perempuan bahwasanya kerusakan moral bangsa disebabkan karena kaum perempuan tidak bertingkah laku sopan dan tidak menutup rapat-rapat seluruh tubuhnya dari pandangan kaum laki-laki. Pemahaman ini menempatkan perempuan sebagai pihak yang bersalah. Dan sebagai pihak yang harus bertanggung jawab.

Tapi persepsi yang berbeda tampak pada pandangan penyusun dan pendukung RUU ini. Mereka berpendapat RUU APP sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengubah tatanan budaya Indonesia, tetapi untuk membentengi ekses negatif pergeseran norma yang efeknya semakin terlihat akhir-akhir ini. Karena itulah terdapat salah satu eksepsi pelaksanaannya yaitu yang menyatakan adat-istiadat ataupun kegiatan yang sesuai dengan pengamalan beragama tidak bisa dikenai sanksi.

Perbedaan pandangan terhadap RUU pornografi tersebut mewakilkan bahwasanya masyarakat Indonesia yang multikultur memiliki persepsi yang berbada dalam memandang istilah pornografi terutama yang erat kaitannya dengan kebudayaan yang berlandaskan pada bhineka tunggal ika dan nilai-nilai gender yang tidak setuju akan diskriminasi terhadap perempuan bahwasanya perempuanlah yang harus bertanggung jawab terhadap rusaknya moral bangsa.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s